Sosialisasi Proyek Toyota (D16-N-0074) di Desa Kenyabur Baru

Lima orang dari Tim Proyek Attitudes Towards Language Choice and Ethnicity: Multigenerational Divergence and Rapprochement melakukan sosialisasi proyek kepada masyarakat desa Kenyabur Baru di Balai Dusun Kenyabur pada hari Sabtu 6 Mei 2017. Mereka adalah Profesor Madya Dr. Chong Shin selaku ketua proyek, Profesor James T. Collins selaku konsultan proyek (Universiti Kebangsaan Malaysia), Dr. Tan Howe Eng (koordinator pelaksana proyek di Mukkah, (Serawak), Jamil Patty, MA (koordinator pelaksana proyek di Sepa (Ambon) dan Dr. Herpanus, SP, MA (koordinator pelaksana proyek di Kenyabur Baru (Sintang). Kegiatan yang difasilitasi oleh Lembaga Bahasa dan Budaya Kalimantan (LBBK) STKIP Persada Khatulistiwa ini dihadiri kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh adat serta puluhan masyarakat desa Kenyabur Baru.

Tim tiba di lokasi disambut dengan tarian dan upacara penyambutan tradisional Dayak Desa. Setelah seremonial penyambutan, kegiatan sosialisasi segera dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dalam sambutan pembuka acara, kepala desa berterima kasih atas terpilihnya desa Kenyabur Baru sebagai salah satu titik penelitian dan berjanji mendukung penuh proyek yang dilaksanakan di wilayah binaanya.

Professor Chong Shin, dalam kata sambutannya selaku ketua proyek, mengemukakan pentingnya melestarikan bahasa daerah sebagai sebuah strategi untuk menyatukan kembali generasi yang terpisah. Mengutip hasil penelitian Dr. Herpanus, Chong Shin mengingatkan bahwa banyak generasi muda sekarang sudah tidak lagi mengenal bahasa ibunya, misalnya bahasa-bahasa lokal tentang nama-nama tumbuhan. Karena itu penting sekali menjaga bahasa ibu demi penyatuan kembali antar generasi melalui bahasa ibu.

Sementara itu, Professor Jim Collins dalam sesi penyampaian materi sosialisasi mengemukakan bahwa proyek internasional yang didanai oleh Toyota Foundation ini dilaksanakan di tiga titik di Malaysia dan Indonesia yakni di Mukkah (Serawak), di Kenyabur (Sintang) dan Sepa (Ambon). Meskipun merupakan proyek internasional, sengaja dipilih negara-negara dengan rumpun bahasa yang sama agar “bisa bebas dan lancar dalam menukarkan informasi” tutur Profesor James. Adapun tujuan dari proyek ini adalah memberi sokongan pada usaha mempertahankan dan melestarikan bahasa lokal, dalam hal ini bahasa Desa (Sintang), bahasa Sepa (Ambon), dan bahasa Melanau (Serawak). Tujuan ini akan direalisasikan dengan melatih anak-anak muda di Kenyabur untuk menghasilkan video-video, buku-buku kecil pendidikan usia dini, baju kaos bertuliskan ungkapan bahasa daerah dan produk lainnya. Menutup paparannya, Profesor James mengajak masyarakat untuk bekerja sama dengan beberapa anak muda Kenyabur yang dilatih untuk mendokumentasikan bahasa Desa di Kenyabur. “Mudah-mudahan dengan kunjungan singkat ini, kita mulai bekerja sama dengan tim remaja yang kita (tim) latih dengan tujuan untuk menggalakan hubungan generasi muda dengan generasi tua supaya anak-anak kecil ini semuanya menjadi penutur bahasa daerah” papar Professor James.

Tokoh adat dan beberapa masyarakat yang hadir menyambut antusias paparan Profesor James. Mereka berterima kasih atas kepedulian tim untuk menggerakan pelestarian bahasa Desa melalui proyek tersebut. Mereka juga berbagi kegelisahan tentang menurunnya minat dan jumlah penutur bahasa daerah di kalangan anak-anak muda.

Daniel, salah seorang tokoh masyrakat, mengemukakan bahwa banyak anak sejak kecil sudah diajarkan bahasa Indonesia dan itu berlanjut terus hingga pendidikan dasar dan pendidikan tinggi. Karena itu banyak anak muda lebih memilih berkomunikasi dengan orang tuanya menggunakan bahasa Indonesia, ketimbang bahasa daerah. Lebih jauh Sebastianus Senen, kepala adat desa Kenyabur Baru mengakui bahwa anak-anak muda sekarang tidak hanya enggan menggunakan bahasa daerah tetapi juga mulai kehilangan tata bertutur dan sopan santun. Tokoh masyarakat lain mengemukakan bahwa bahasa daerah mulai kurang diajarkan kepada anak-anak karena ada anggapan bahwa anak yang sejak kecil berbahasa Indonesia lebih percaya diri dalam bergaul dan berprestasi di sekolah. Salah satu peserta perempuan yang hadir mengusulkan bahwa kaum wanita atau ibu-ibulah yang harus diberdayakan dalam pelestarian bahasa karena mereka yang sering mengasuh anak dan berinteraksi dengan anak sejak kecil.

Menanggapi kegelisahan masyarakat itu Dr. Herpanus mengemukakan bahwa tujuan proyek ini adalah mengingatkan para orang tua untuk mewariskan bahasa daerah kepada anak-anaknya. Hal itu tidak bertentangan dengan keinginan orang tua untuk mengajarkan bahasa Indonesia atau bahasa lain kepada anak-anaknya.

Lebih lanjut Profesor James mengemukakan bahwa anak-anak dalam keluarga bisa diajarkan dwibahasa. Misalnya anak diajarkan bahwa kalau mau berbicara dengan ayah, anak menggunakan bahasa Indonesia dan kalau berbicara dengan ibu, anak menggunakan bahasa daerah. Meskipun proyek ini hanya melibatkan satu desa, namun diharapkan cara kerja yang diajarkan dan hasil yang diperoleh bisa diikuti atau menjadi teladan bagi upaya pelestarian bahasa Desa di daerah yang lain.

Akhirnya Profesor James berpesan agar masyarakat penutur sendirilah yang bertugas untuk melestarikan bahasa daerahnya, bukan orang asing atau pendatang. Pelatihan yang diberikan oleh tim proyek hanya membantu masyrakat untuk melestarikan budayanya sendiri.

Kontributor LBBK: Gabriel Serani

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*